Monday, May 4, 2020

Nona Sri Telah Datang

Persilangan buah nona dan srikaya melahirkan nona sri.

Penampilan buah srikaya itu unik. Warna kulit buah merah tua, tanpa ?Bentol-bentol? Seperti srikaya Annona squamosa. Justru sebaliknya, permukaan kulit buah seperti melesak ke dalam. Pada beberapa bagian kulit buah tampak bintil-bintil kecil. Begitu dibuka, tekstur daging buahnya persis srikaya, warnanya dominan putih, tapi ada semburat merah pada bagian di dekat kulit buah.

Ukuran buah tergolong jumbo, rata-rata sekilo terdiri atas 2?3 buah. Saat menyantapnya tidak terlalu repot membuang biji. Sebab dalam satu buah hanya terdapat 20?Forty biji, srikaya lokal mencapai 90?One hundred biji. Saat matang di pohon, buah tidak lekas jatuh. Itu karena tangkai buah lebih pendek dan besar sehingga kokoh menopang buah. Dengan berbagai keunggulan itu pantas bila nona sri?Nama buah itu?Kini menjadi incaran para kolektor tanaman buah. Menurut Made Supala, sang pemilik pohon, nona sri diminati salah satu pasar swalayan internasional di tanahair. ?Berapa pun jumlah produksi nona sri bakal diterima,? Ujar pria kelahiran Singaraja, Bali, itu.

Warna unik

Menurut Made Supala penampilan nona sri berbeda karena merupakan hasil perkawinan silang. Pada 2005, pemilik UD Buah Unggul itu mengawinsilangkan srikaya nanas dan san pablo. Srikaya nanas memiliki permukaan kulit seperti sisik kulit nanas Ananas comosus. Srikaya introduksi dari Taiwan itu rasanya manis, biji sedikit, dan warna kulit buah hijau kekuningan. Sementara san pablo diduga merupakan varian dari mulwo Annona reticulata yang kulitnya merah. Rasa buah nona san pablo kurang manis dan berbiji banyak. Supala mendapat kedua indukan itu dari Chandra Gunawan, kolektor buah di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat.

Made Supala menyilangkan kedua induk itu lantaran punya angan-angan menghasilkan srikaya varietas baru yang manis, warnanya mencolok. ?Saya merasa tertantang mewujudkan mimpi itu sebab literatur yang saya baca menyatakan sulit menghadirkan warna buah mencolok di daerah tropis,? Tutur ayah 1 anak itu. Sejak itu Made Supala mengamati pembungaan kedua tanaman induk. Ia mencari waktu yang tepat saat kedua induk itu berbunga berbarengan. ?Mengetahui pasti waktu mekarnya bunga penting pada penyilangan,? Ujar warga Kelurahan Banyuning, Buleleng, Provinsi Bali itu.

Setelah menunggu selama sepuluh bulan, barulah Made Supala menjumpai kedua induk berbunga dan mekar berbarengan. Ia lalu mengambil bunga srikaya nanas sebagai sumber serbuk sari. Setelah itu ia dekatkan dengan putik bunga san pablo. ?Ketika didekatkan serbuk sari dari srikaya nanas langsung menempel ke putik san pablo karena saat bunga matang putik mengeluarkan cairan,? Ujarnya. Setelah itu ia lalu menutup bunga yang disilangkan dengan kertas untuk mencegah penyerbukan dari bunga lain.

Hasil seleksi

Tak?Disangka?Hasil persilangan?Dua?Spesies?Itu menarik minat konsumen tanaman buah saat Made Supala memamerkan nona sri pada ajang pameran di Pekan Flora Flori Nasional 2011 di Denpasar. Sejak itulah Made semakin getol memperbanyak nona sri. ?Kini permintaan bibit datang dari Medan, Jakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan,? Kata pria fifty seven tahun itu.

Made Supala tak hanya sukses melahirkan nona sri. Ia juga berhasil menyilangkan srikaya nanas dengan mulwo lokal. Dari hasil persilangan itu menghasilkan varian srikaya yang berbeda dari kedua induk. Dari sosoknya dominan menyerupai mulwo yakni berkulit cenderung halus, tapi warna kulit berwarna kuning. Padahal, warna kulit mulwo cenderung hijau kemerahan atau merah tua. Ciri khas srikaya nanas nyaris tidak tampak sama sekali. Bintil-bintil pada kulit buah sama sekali tidak terlihat. ?Karakter srikaya nanas hanya menitis pada rasa manis dan biji yang sedikit,? Ujar Made. Namun, Made belum memberi nama pada varian srikaya hasil silangannya itu. Tertarik mengoleksi?

Dikutip dari Majalah Trubus Edisi Bulan Juli 2013.

No comments:

Post a Comment